Pendeta Yohanes Ngentem Purba Pendiri Gereja Maspendamai dan Pioner Gereja GPdI Sumatera Utara

Pendeta Yohanes Ngentem Purba
Pdt. Yohanes Ngentem Purba

Pendeta Yohanes Ngentem Purba yang lebih dikenal dengan nama ”Purba Tua” merupakan mantan pelaut di perkapalan belanda yang mendirikan gereja pertama di beberapa Desa Tanah Karo dan dikenal sebagai Pioner atapun yang pernama merintis Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) di Sumatera Utara dan Pendiri Gereja Masehi Pentakosta Damai Indonesia (MASPENDAMAI) dan mendirikan Gereja pertama di beberapa Desa Tanah Karo.

Seorang nantan pelaut di Perkapalan Belanda ini merupakan Putra Suku karo yang pernah dipenjara karena mencuri kapal beserta senjata di tempatnya bekerja. Pencurian yang dilakukan itu diketahui oleh pihak perusahaan dan Purba Tua ditahan di Surabaya dan divonis hukuman paling Berat yaitu hukuman mati.

Selama di Rumah Tahanan, Purba Tua bersama teman-temannya satu ruangan sering mendapat kunjungan dari Penginjil Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie dan memberikan Kabar baik kepada mereka.

Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie

Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie merupakan sebuah Perkumpulan (Vereeniging) yang pada tanggal 4 Juni 1924 di akui sah oleh Pemerintah Hindia Belanda dan pada tahun Tanggal 4 Juni 1937, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja). Pada jaman jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942,nama Persekutuan gereja yang berasal dari bahasa Belanda itu di ubah menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia yang disingkat menjadi (GPdI).

Pendeta Yohanes Ngentem Purba Terlepas dari Tuntutan Hukuman Mati dan Bertobat

Dengan Hati yang putus asa karena akan segera menerima hukuman mati, membuat kedatangan penginjil dari amerika menjadi sebuah penghibur dan semangat bagi mereka.
Pendeta Yohanes Ngentem Purba dan teman-temannya di dalam sel tahanan mendengarkan dan menerima dengan baik Injil yang di kabarkan oleh Hamba Tuhan dan mereka semua Bertobat. Dengan pengenalan Pdt. Purba Tua terhadap Injil membuatnya setia untuk berdoa setiap hari dan di dalam doanya Beliau bernazar berjanji kepada Tuhan kalau dilepaskan dari Hukuman Mati maka Pdt. Purba Tua akan menyerahkan diri untuk melayani dan menjadi Penginjil yang Hidup. “kalau aku hidup Tuhan aku mau serahkan hidupku sepenuhnya untuk melayaniMu” Kata Purba Tua di dalam Doanya.

Mempunyai hati yang tulus ketika berdoa setiap hari, Mujizatpun terjadi kepada mereka dan Purba Tua bersama teman-temannya dilepaskan dari Hukuman Mati. Dengan Mujizat yang mereka terima yang tidak bisa dijelaskan secara akal sehat, membuat Purba Tua dan teman-temannya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan berjanji kepada Tuhan akan menepati Nazar yang sebelumnya sudah dijanjikan lewat Doa-doanya setiap hari.

Pada sekitar Tahun 1936, Purba Tua bersama dengan teman-temannya satu ruangan keluar dari penjara dan mereka pulang ke kampung halaman dan menjadi para Pioner GPdI di daerah mereka masing-masing.

Penginjilan Pertama Pantekosta di Sumatera Utara

Di kampung halaman yang berada di Desa Lepar Samura, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara Pdt. Yohanes Ngentem Purba melakukan Pelayanan Pertamanya sebagai Penginji.
Pdt. Purba Tua melakukan kegiatan penginjilan dengan mengunjungi rumah-rumah saudaranya di Desa.

Masyarakat yang pada waktu itu masih sebagai pemercaya PEMENA dan belum pernah mendengar kabar Injil membuat Purba Tua mendapat banyak sindiran dan ejekan dari masyarakat setempat. Pemena merupakan satu agama Tradisional Karo yang berarti Yang Pertama. Pemena adalah satu kepercayaan yang mempercayai akan Roh Leluhur dan Roh Orang yang sudah meninggal (Begu Jabu) dan kepercayaan ini mirip dengan Agama Hindu sehingga kerap disebut sebagai Hindu Karo.

Sindiran dan Ejekan yang diterima setiap hari, tidak membuat Purba Tua patah semangat dan terus melanjutkan kegiatan penginjilannya hingga beberapa dari mereka menjadi percaya terhadap Kabar Baik yang diberikan oleh Purba Tua. Setelah berhasil di desa Lepar Samura, Purba Tua bertekad untuk melanjutkan misinya untuk memberitakan kabar Injil kepada seluruh Masyarakat Karo.

Sebelumnya, Agama Kristen Protestan aliran Calvinis tercatat masuk ke Tanah Karo untuk pertama kalinya pada sekitar tahun 1841 yang bertempat di Buluh Awar dan menjadi sebuah Perkumpulan yang bernama Gereja Karo Protestan dan sempat berganti nama yang sekarang kita kenal dengan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Dan pada sekitar Tahun 1936 merupakan Awal Pertama Agama Kristen aliran Pantekosta masuk ke Sumatera Utara yang dulu masih bernama Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie yang berawal dari Tanah Karo yang dibawa Oleh Pdt. Yohanes Ngentem Purba dari Surabaya.

Masyarakat Karo merupakan salah satu Suku yang sangat menyukai seni Tradisional salah satunya adalah seni Musik. menyadari akan hal itu, Purba Tua berniat akan mengabarkan injil dengan bantuan Alat Musik Tradisional dengan harapan akan membuat masyarakat untuk berkumpul.

Alat musik karo Pendeta Yohanes Ngentem Purba Penganak di desa suka nalu
Alat Musik Tradisional (Penganak) yang digunakan Pdt. Purba Tua

Dengan Sepeda yang dimiliki, Purba Tua pergi ke Desa terdekat untuk mengabarkan injil di sana. Suara Penganak (Gong Kecil) yang dimainkan dengan sangat baik membuat Penduduk di sekitar Desa berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan yang ditampilkan Purba Tua. Di tengah-tengah kerumunan penduduk desa, Purba Tua mengambil kesempatan dan bersaksi kepada Mereka dan beberapa dari mereka percaya dengan kabar yang disampaikan.

Dengan kepintaran Orasi cara menyampaikan Berita kepada Masyarakat yang sangat baik, Purba Tua terus melajutkan Perjalanannya ke Desa-desa di Tanah Karo dan diterima pada setiap Desa yang dikunjunginya.

Bukit Doa Kesembuhan Lepar Samura

Masyarakat yang percaya terhadap Kabar Baik yang disampaikan Purba Tua terus bertambah hingga akhirnya mereka mendirikan sebuah jemaat kecil di Lepar Samura. Di perkumpulan jemaat yang masih kecil itu, Mereka melakukan ibadah setiap hari dan tak jarang mujizat kesembuhan terjadi disana. Orang yang sakit sembuh sesudah didoakan dan Kabar Mujizat Kesembuhan yang terjadi langsung tersebar ke berbagai daerah di Tanah Karo. Banyak masyarakat dari berbagai daerah yang datang ke Lepar Samura untuk berdoa disana dan mengalami kesembuhan. Beberapa dari Mereka yang di doakan Purba Tua menjadi Hamba Tuhan yang berpengaruh di Kabupaten Karo salah satunya adalah Pdt. D.M Sinukaban.

Setelah berhasil mendirikan Bukit Doa di Lepar Samura, Purba Tua terus melanjutkan perjalanan penginjilannya dengan pergi ke Desa lainnya di Tanah Karo salah satunya adalah Desa Bunuraya, yang berada di Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera utara.

Di Desa Bunuraya Purba Tua mengunjungi satu rumah ke rumah lainya untuk mengabarkan kabar baik kepada mereka dengan berbagai cara dilakukan. dan tidak jarang membuat pertunjukan musik Tradisional dan bekerja sama dengan Seniman lokal di Desa itu dan mengabarkan injil di tengah-tengah acara tersebut dan banyak orang yang percaya terhadapnya, sehingga terciptalah sebuah jemaat kecil yang tak jauh dari Jambur Pijer Podi Desa Bunuraya.

Agresi II Militer Belanda

Pada Tahun 1948, terjadilah Agresi Militer kedua Belanda di Tanah Karo. Serangan yang terjadi ini membuat Penduduk Karo mengungsi dari desa mereka dan pergi jauh secara berpencar. Ada yang ke Desa Kubu Simbelang, Tiga Binanga dan tempat lainnya yang jauh dari Kota kabanjahe dan pada masa itu, banyak Masyarakat karo yang lahir di tempat pengungsian dan mereka diberi nama sesuai tempat mereka lahir.

Di Tempat pengungsian, Purba Tua terus mengabarkan injil kepada masyarakat yang berkumpul secara beramai-ramai. Dengan sepeda kesayangan yang dimiliki Purba Tua bahkan sampai ke daerah Kabupaten Toba dan Tapanuli untuk mengabarkan injil.

Setelah situasi mulai aman, Masyarakat karo yang berada di tempat pengungsian mulai pulang ke kampung masing-masing. Berbeda dengan Purba Tua yang belum mengetahui akan kepulangan Masyrakat ke desa mereka karena terlalu sibuk dengan kegiatan penginjilannya di Kabupaten Toba dan Tapanuli. Belum juga adanya kabar dari Purba Tua, Membuat adanya Isu di kalangan teman-teman sepelayanannya yang menyatakan Purba Tua meninggal di tempat pengungsian.

Setelah beberapa waktu, Purba Tuapun pulang dari tempatnya memberitakan injil dan betapa kagetnya beliau ketika mendengar akan Informasi yang menyatakan dirinya sudah meninggal di Tempat Pengungsian. Amarah Purba Tua memuncak kala itu dan Marah Besar terhadap semua Kader-Kadernya (Anak Rohani) yang menyatakan Dirinya Meninggal dan memutuskan meninggalkan Organisasi Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) yang dirintisnya pertama kali di Tanah Karo yang kala itu masih bernama Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie.

Mendirikan Gereja Masehi Pentakosta Damai (MASPENDAMAI)

Gereja Maspendamai Bunuraya
Gereja Maspendamai Desa Bunuraya setelah dilakukan Pembangunan. Terlihat Kedua Makam di samping Gereja

Setelah keluar dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Purba Tua kembali ke Desa Bunuraya dan bersama Jemaat kecilnya mereka Mendirikan sebuah Gereja yang bernama Gereja Masehi Pentakota Damai (MASPENDAMAI) di Desa Bunuraya dan merupakan Gereja Pertama yang berdiri di Bunuraya.

Pdt. Purba Tua bersama istri Pdt. Intan Ngadepi Br Tarigan memutuskan untuk menetap di Desa Bunuraya dan Jemaat memberikan Rumah dan Lahan pakai kepada Purba Tua yang letaknya tepat di Barung (Bunuraya Baru) untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya. Di Desa ini beliau dikenal sebagai seorang Marinir tentara Belanda dan dengan Sosok yang ramah kepada setiap orang.

Gereja Masehi Pentakosta Damai (MASPENDAMAI) yang baru saja didirikan langsung maju pesat dan mendapat banyak kunjungan dari masyarakat dari berbagai daerah di Tanah Karo dan merupakan Gereja yang paling cepat maju yang pernah Beliau Dirikan (Menurut Beberapa Sumber). Dari Gereja ini banyak jemaat yang disekolahkan dan menjadi Hamba Tuhan. dan Dengan perkembangan yang pesat Purba Tua bersama jemaat Bunuraya membuka cabang Gereja di Desa Suka Nalu yang dilakukan dengan cara menyumbang secara sukarela. Salah Satunya adalah Alm.Pdt.Bangsa Ginting yang menjual Kerbau dan Padi untuk menambah biaya Pembangunan dan biaya mengurus Surat Ijin Gereja kepada Pemerintahan.

Pendeta Yohanes Ngentem Purba Dimakamkan Di Desa Bunuraya atas Permintaan

Makam Pendeta Yohanes Ngentem Purba
Makan Pdt. Purba Tua Dan Istri Pdt. Intan Ngadepi Br Tarigan

Beberapa waktu berselang, Pdt. Purba Tua Meninggal dan sebelum kematiannya sudah berpesan agar nantinya dimakamkan di samping Gereja Maspendamai yang beliau dirikan yang berada di Desa Bunuraya. Kepemimpinan Maspendamai berlanjut ke Pdt. Intan Ngadepi Br Tarigan yang merupakan Istri tercinta yang beberapa tahun kemudian meninggal ketika sedang berkotbah dan dimakamkan di samping gereja dekat Pdt. Purba Tua.

Pendeta Yohanes Ngentem Purba dan Istri Pdt.Intan Ngadepi Br Tarigan tidak mempunyai keturunan.

Setelah kepergian mereka, Jemaat Maspendamai terjadi perpecahan dan berdirilah Gereja Jemaat Allah Indonesia (GJAI) Desa Bunuraya yang kemudian juga terjadi perpecahan dan berdirilah dua Gereja Baru yaitu Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Bunuraya yang dipimpin oleh Pdt. Tarigan dan Gereja Elshadai yang Sekarang menjadi Gereja Kemuliaan Sion (GKS) Bunuraya yang dipimpin oleh Pdt. Ginting.

Pendeta Yohanes Ngentem Purba dikenal sebagai Pioner Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Sumatera Utara dan Pendiri Gereja Masehi Pentakosta Damai (MASPENDAMAI). dan juga Mendirikan Gereja Pertama di beberapa Desa di Tanah Karo.

Yakobus 2:26
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatanperbuatan adalah mati.
Emaka bali ras kula la rikut ras kesah mate kap, bage me pe kiniteken la rikut ras perbahanen mate kap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *